Merubah Sesuatu. [DEMO]

 Sekarang sudah jam 9.30 malam, aku baru saja selesai membaca buku "Norwegian Wood". Sungguh buku yang bagus. Walaupun membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menamatkan buku itu, tapi rasanya puas setelah selesai membaca sebuah buku. Terasa lebih menyenangkan daripada membaca buku itu sendiri. Aku mendapatkan buku itu sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 20 dari seorang rekan kerja yang merupakan penggemar Haruki Murakami. "Ini buku yang bagus. Kau harus membacanya!" Aku menerimanya dengan tersenyum canggung. Sangat sulit untukku membaca buku dalam waktu yang lama, pada awalnya buku itu hanya menjadi pajangan, sama seperti buku lainnya yang kubeli tetapi tidak pernah kubaca.

Aku mendapatkan motivasi untuk mulai membaca "Norwegian Wood" saat aku tengah melamun sambil menyesapi kopi. Ditemani dengan musik jazz santai, aku mulai memikirkan banyak hal, aku melihat buku itu tersusun rapi namun tidak pernah kubaca. Akhirnya aku bangkit, mendekati rak itu dan memperhatikan setiap buku yang kumiliki. Aku suka untuk membeli buku, rasa senang ketika menginjakan kaki di Gramedia selalu terasa berbeda dari semua rasa senang yang terjadi. Akhirnya aku memiliki hampir 30 buku, dan semuanya belum pernah kusentuh satupun.

Kupikir akan sayang jika semua buku ini hanya akan menjadi tumpukan kertas mahal yang pada akhirnya membusuk karena tidak pernah kusentuh. Kuputuskan untuk memulai membaca salah satu dari banyaknya tumpukan buku itu, aku melihat "Norwegian Wood" lalu teringat perkataan rekanku tentang buku itu. Jadinya "Norwegian Wood" akan menjadi buku pertama untukku masuk ke dunia membaca buku.

Membutuhkan waktu setidaknya sekitar 3 minggu untukku menamatkan buku "Norwegian Wood". Aku tidak tau apakah itu bisa dikategorikan cepat atau lambat, setidaknya aku sudah berusaha untuk menyisihkan waktuku untuk mulai membaca dan membuat kebiasaan baru. Aku tidak menyentuh makanan apapun sejak terakhir makan siang, setibanya di apartemen, aku langsung meraih buku "Norwegian Wood" dan mengambil posisi untuk mulai membaca. Aku tahu bisa menamatkan buku ini jika lebih cepat jika aku membaca lebih banyak halaman daripada biasanya. Sekarang aku merasakan perutku meminta sesuatu.

Buku itu kuletakan di meja yang berada di sampingku, tidak terasa waktu yang kuhabiskan, langit telah berubah sangat jauh. Aku masih dengan setelan yang sama saat bekerja. Baiklah, aku akan mandi dahulu, perut ini masih bisa menunggu sebentar lagi.

Air perlahan mengalir, membasahi tubuhku lalu menggenang di lantai sesaat sebelum akhirnya lenyap. Sudah lama aku tidak mandi air dingin semalam ini, rasanya dingin tetapi terasa nyaman. Tubuhku terasa rileks. Sampo, kutuangkan ke tangan, kugosokan ke rambutku. Kepalaku menjadi lebih dingin karena sensasi cooling yang dimiliki sampo ini. Kugosok juga tubuh ini dengan sabun, dengan perlahan air menyapu pergi semua busa yang ada di tubuhku.

Dengan handuk aku mengeringkan rambutku, akupun ke balkon melihat seisi kota dengan berbagai cahaya warna-warni yang menemani gelapnya malam.

Aku melihat lagi buku "Norwegian Wood" yang tergeletak di meja yang tidak jauh dari pintu pembatas antara balkon dan apartemenku. Aku bertanya dalam kepalaku, tentang apa yang akan dilakukan watanabe setelah semua itu. Kukembalikan buku itu ke posisi awalnya, rambutku sudah kering. Saatnya menepati janji yang sempat tertunda.

Aku mengambil jaket tebal yang tergantung di dekat pintu, apartemen sudah kukunci. Koridor sangat sepi, hanya lampu remang-remang yang menemani kesepian koridor ini. Aku menuruni 10 lantai dengan tangga, setiap lantai memiliki suasana remang-remang yang sama. Lorong koridor selalu terasa sepi yang menyedihkan. Gelap saat matahari datang dan cahaya hangat yang terasa seperti tidak kuat untuk menyinarinya. Tidak pernah ada rasa kehidupan di tempat ini.

Jalanan ramai hanya ditemani sedikit mobil dan motor yang berlalu menuju tempat tujuannya masing-masing. Berjalan di tengah sinar cahaya lampu saat malam hari terasa berbeda, aku rasa tidak pernah berjalan kaki di sekitar sini saat malam. Sudah 3 tahun aku tinggal di apartemen, rasanya berjalan di sekitar sini terasa asing.

Jam di tanganku menunjuk ke angka 10, aku berjalan sekitar 15 menit, untungnya masih ada tempat makan yang buka di waktu yang sudah cukup malam. Terlihat tempat makan ini cukup mewah dan mahal, penampilanku saat itu tidak seperti orang yang siap menyantap makanan mewah, tetapi tidak juga terlihat seperti orang yang tidak memiliki uang. Tidak ada salahnya, aku hanya ingin makan.

Saat pintu itu terbuka, sudah ada seseorang yang menyambutku.

"Selamat datang! Apakah anda sudah memesan meja?" Tanyanya dengan suara yang lembut dan senyum yang ramah.

"Ah, tidak. Saya belum memesan meja." Jawabku.

"Oh, begitu. Apakah anda sendiri? Atau ingin meja untuk lebih dari satu orang?" Tanyanya lagi.

"Tidak, tidak. Saya sendirian saja." Jawabku, lalu aku tertawa canggung.

Ia mengangguk, seperti paham. "Baiklah, ikuti saya."

Aku dibawa menuju ke ruangan dengan banyak kursi dan meja, tetapi semuanya sudah kosong sekarang. Tidak ada orang lain yang sedang makan, bahkan tidak ada lagi sisa jejak piring atau sejenisnya. Kurasa ini adalah restoran dengan jam sibuk ketika gelap mulai secara perlahan menggantikan sinar matahari yang sedang ingin istirahat.

Dia menyalakan lilin yang ada di meja itu, nyala api itu perlahan menghangatkan suasana kesepian yang singgah lama di meja ini. Senyumnya masih menempel erat di wajahnya, aku seperti merasakan ditarik masuk ke dalam bulu domba yang menghisapku perlahan dengan rasa empuk.

"Silahkan dilihat untuk menu yang kami sajikan." Sebuah buku menu diserakan kearahku, sebagian besar menu yang disediakan adalah daging, harganya juga lumayan mahal. Tidak apa, ini untuk merayakan "Norwegian Wood".

"Apakah untuk steaknya masih ada?" Tanyaku menunjuk Steak yang ada di buku itu.

"Ada." Dijawabnya dengan cepat. "Tingkat kematangan apa yang anda inginkan?" Senyumnya terlihat sangat manis untuk menggoda perutku.

Aku berpikir sebentar, "Medium saja.

"Ah, baik. Bagaimana dengan sausnya?"

"Mushroom sauce."

"Apakah anda ingin minum?" Tanya, seperti sedang menawarkan sesuatu.

Aku melihat kembali buku menu, sebenarnya aku tidak mengerti banyak tentang alkohol atau apapun yang sejenis dengan itu. Aku bukan orang yang cocok dengan alkohol, lebih cocok dengan jus.

"Apakah kamu punya rekomendasi?" Tanyaku, "Aku benar-benar awam untuk dunia minum."

Dia sepertinya sudah terbiasa dengan hal ini. Dia memperbaiki poninya, menggantungkannya di telinga. "Saya rasa untuk malam ini Forgotten Beautiful Memories akan cocok dengan steak yang anda pesan." Dia menunjuk salah satu anggur yang ada di buku menu.

"Ya, itu saja boleh."

"Baiklah. Mohon ditunggu untuk menu yang anda pesan." Senyumnya terbentuk rapi menampilkan giginya yang putih.

Aku menunggu sekitar 20 menit sebelum akhirnya semua siap berada di mejaku. Selama menunggu, aku hanya memperhatikan bagaimana gerak api yang menari-nari di atas lilin dan berkobar dengan redup yang terjaga.

Di meja, ada steak yang sudah dipotong dengan cantik, diselimuti dengan putih dari mushroom sauce. Terlihat sangat enak di saat kelaparan menggempur dengan kuatnya. Lalu ia menuangkan sebuah wine ke gelas yang siap di dekat piring daging. "Selamat menikmati! Jika anda membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk memanggil saya." Dia memberikan senyum lagi, lalu pergi entah kemana, membiarkanku menikmati waktuku sendiri.

Rasa steak yang disuguhkan biasa saja, cukup enak tetapi tidak sesuai dengan harga yang diberikan. Satu hal yang mendukung steak ini adalah daging yang empuk, sangat mudah untuk dipotong. Lagipula ini sebenarnya enak jika tidak mahal dan tidak setiap hari di konsumsi. Anggur yang diberikan rasanya juga tidak buruk. Pelayan itu benar, kombinasi antara keduanya menyatu dan saling mendukung. Dan tidak butuh waktu lama untuk makanan itu berpindah dari atas piring menuju dalam diriku.

Hanya tersisa anggur di meja, aku menikmati kesendirian di tempat ini. Rasanya ini menjadi sesuatu hal baru yang aku sukai. kunikmati anggur ini secara perlahan, membiarkannya mengalir dan menyatu denganku.

Pelayan yang tadi kembali, masih dengan penampilan yang sama, tapi aku tidak mengerti kenapa dia datang lagi. Aku tidak merasa memesan sesuatu yang lainnya.

"Permisi," Ucapnya dengan ramah. "Izinkan saya menyajikan fortune cookie sebagai makanan penutup anda."

"Tetapi saya tidak memesan makanan penutup." Ucapku sambil menggaruk kepala.

Senyumnya tidak terlihat berubah. "Ah, ini memang spesial untuk pelanggan kami. Silahkan dinikmati."

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih." Aku tersenyum canggung. Rasanya aneh, diberikan fortune cookie tapi bukan di restoran dengan tema makanan cina. Yasudahlah.

Pelayan itu tersenyum, lalu kembali pergi menjangkau kehilangan yang sebelumnya ada. Aku memandangi kue itu, apakah memiliki isi di dalamnya? Pikiranku mencoba menerka-nerka, kuteguk lagi anggur yang masih tersisa setengah di meja, lalu aku mulai membelah kue itu dengan tanganku. Ada sebuah surat kecil di dalamnya,



"Lakukanlah selagi bisa, tidak ada yang kekal di dunia ini. Tidak akan pernah tahu kapan semua ini berakhir."



Kata-kata yang tidak terlalu kumengerti, mungkin ini lebih seperti kalimat motivasi. seperti "Just Do It" milik Nike, atau apapun yang sejenis dengan itu. Tidak ada yang perlu terlalu di pikirkan. Aku memasukan sepotong kecil surat itu ke kantong yang ada di celanaku, sekalian mengeluarkan dompetku untuk membayar. Aku sudah selesai, sudah saatnya pergi.

Pelayan itu datang setelah ku panggil, sekarang sudah hampir jam 12 malam, tapi pelayan ini masih dengan energi yang sama sejak aku datang, semangat kerjanya sangat mengagumkan.

"Saya telah selesai, bisakah saya membayar?" Tanyaku, kali ini aku juga memberikan senyuman.

"Tentu."

Aku mengeluarkan uang yang berada di dalam dompetku, untungnya uangku cukup. Aku juga mengambil uang lebih, "Ini untuk tipnya. Terima kasih atas makanan dan layanannya."

Dia tampak kaget, "Apakah ini tidak terlalu banyak?" Kali ini ekspresinya berubah tidak percaya, senyumnya berganti.

Aku mengangguk pelan, apakah tip yang kuberikan memang kebanyakan? Tapi menurutku sudah sesuai dengan bagaimana dia melayaniku dengan baik.

Dia membungkuk, "Terima kasih! Saya tidak menyangka akan mendapatkan tip sebanyak ini."

Aku mengambil jaket yang kuletakan di kursi, bersiap untuk pergi.

"Boleh saya tahu siapa nama anda?" Tanya pelayan itu saat aku sedang mengenakan jaketku.

"James."

"Ah. Terima kasih Pak James atas kunjungannya, saya harap anda akan berkunjung kembali."

"Jangan memanggilku pak, umur kita mungkin hanya berbeda 2-4 tahun. Panggil saja langsung namaku." Aku merasa tidak enak untuk dipanggil olehnya dengan sebutan pak. "Boleh saya tahu namamu juga?"

"Hana." Senyumnya kembali datang. Sepertinya dia sangat senang.

Restoran itu sekarang tertinggal jauh di belakang, rasa dingin kembali dan membawa tubuhku menjauh dari kehangatan yang tadi dirasakan. Sekarang seharusnya sudah tengah malam. Jalanan sudah sepi, hanya ada beberapa mobil dan motor yang berlalu lewat. Lampu jalan bersinar putih, billboard memantulkan warna-warna yang asing saat malam hari. Dunia sedang tertidur dalam gelap.

Aku merasa lelah setelah melakukan semuanya, dengan cepat kugantungkan jaket dan pakaian yang kugunakan. Dengan setelan tidur aku berjalan pelan untuk bersiap tidur, setelah mengsikat gigiku aku merebahkan diriku di atas kasur, hal yang sudah kurindu. Di bawah gelap, selamat malam.



Tidurku terasa sangat nyenyak, aku bangun di jam 5 pagi dan tetap merasakan segar. Aku meminum segelas air putih sebelum akhirnya aku membuat kopi, sebuah kopi panas yang akan menemaniku menyaksikan munculnya matahari. Aku sudah beberapa kali melakukan ini, melihat sekitarku berubah dari kejauhan. Lampu-lampu akan berganti menjadi sinar matahari pagi, langit biru yang terasa dingin lalu berganti menjadi lebih hangat, dunia mulai kembali beraktivitas.

Rasanya kota ini sedang bernapas pelan, merangkak dengan sabar untuk bangun. Aku sudah lama berhenti merokok, tetapi entah kenapa terpikir untuk merokok di saat seperti ini. Rasanya suasana ini sangat mendukung untuk merokok dengan segelas kopi panas menjadi teman. Tapi aku tidak bisa, aku sudah berhenti hampir satu tahun, satu tahun menahan rasa ingin merokok benar-benar menyulitkan. Jika aku merokok, aku akan kembali ke kebiasan buruk dan sulit untuk berhenti. untungnya tidak ada rokok di sekitar sini, aku hanya perlu menahannya dan membiarkannya menghilang.

Di kejauhan, aku melihat seseorang. Mungkin umurnya sekitar 33 tahun, bukan usia yang muda lagi. Dia sedang berolahraga pagi, tampaknya dia berlari sudah cukup jauh, dedikasi yang benar-benar hebat. Rasanya aku jadi ingin untuk memulai berolahraga lagi, sepertinya sudah sangat lama aku tidak berolahraga. Setelah pindah, aku sudah tidak pernah bersepeda. Sepedaku masih tinggal di rumah orang tuaku. Awalnya aku ingin mengenal daerah sekitaran sini lalu membawa sepeda itu dan melanjutkan kembali bersepeda, tetapi rencana hanyalah rencana.

"Tidak ada yang benar-benar begitu menyukai kesendirian." Kurasa Haruki Murakami benar. Apakah aku menyukai kesendirian? Atau aku menikmati kesendirian ini? Aku tidak tahu aku masuk ke kategori yang mana, tetapi kurasa salah satu dari kedua kategori itu.

Jam 8.15, aku sudah duduk di kursi kantorku. Rasanya aku hampir tidak pernah terlambat untuk bekerja. Ini bukanlah pekerjaan yang keren, aku hanya duduk di ruangan dingin dan menatap layar komputer berjam-jam. Tidak pernah terpikir untuk bekerja di bidang ini, bagaimanapun ini adalah pekerjaan idaman banyak orang, kurasa aku harusnya bersyukur untuk itu.

Aku bertemu dengan rekan kerjaku yang memberikan buku "Norwegian Wood" kepadaku. Penampilannya hari ini cukup nyentrik dengan baju berwarna ungu gelap. Hari ini rambutnya terlihat pendek, baru dipotong kemarin ya?

"Baru potong rambut ya?" Tanyaku saat dia baru saja menduduki kursinya.

Dia tampak sedikit terkejut, "Ah, iya. Kata pacarku 'sudah saatnya kamu potong rambut' jadi aku menurutinya." Katanya, tangannya masih memegang segelas teh yang dia bawa. "Aneh ya?"

"Tidak seaneh itu. Tapi rasanya aneh melihat rambutmu sependek itu." Jawabku.

Dia berdeham sebentar, lalu melirik pantulan wajahnya di layar yang masih belum dinyalakan. "Perubahan memang selalu terasa aneh di awal. Kita cuman harus terbiasa." Ungkapnya, disusul dengan helaan napas. Komputer pun akhirnya dinyalakan, jam kerja sudah dimulai.

Di depan komputer dalam waktu yang lama bukanlah hal yang menyenangkan. Leherku selalu terasa aneh jika terlalu lama fokus menatap layar komputer, aku harus melakukan beberapa peregangan ringan jika rasa anehnya mulai kambuh. Jam istirahat siang menjadi waktu yang berharga, setidaknya ada jeda sebentar untuk tidak menatap komputer. Biasanya aku akan pergi keluar untuk mencari makan, tetapi tidak jarang juga karena pekerjaan yang terlalu banyak aku tidak bisa pergi keluar, bahkan untuk bangkit dari kursi.

Aku dan sebagian anak kantor lainnya yang makan di tempat yang sama, rumah makan yang jaraknya kurang lebih 10 menit. Tempat itu menjual banyak makanan, bahkan bisa kukatakan komplit. Ada ayam, ikan, kangkung, banyak lainnya juga. Aku biasanya memesan nasi dan ayam goreng, harganya murah, rasanya juga lumayan enak. 

"Hahh, melelahkan sekali pekerjaan ini." Ucap rekanku sambil meregangkan ototnya.

"Ya begitulah. Namanya kerja tidak ada yang menyenangkan." Ucapku.

Pesanan kami akhirnya datang. Aku memesan es teh karena hari ini terasa panas.

"Oh ya. Terima kasih untuk buku yang waktu itu. Aku sudah membacanya." Kataku, lalu aku mulai menenggak es teh yang terasa lebih nikmat karena cuaca.

"Buku? Yang mana?"

"Norwegian Wood"

"Ah itu. Buku yang bagus bukan?"

"Iya, buku yang bagus. Tetapi aku masih tidak mengerti bagaimana buku itu berakhir."

"Haruki Murakami sengaja begitu. Dia ingin kita menginterpretasi apa yang terjadi. Sungguh penulis yang jenius."

"Begitu ya? Jadi bagaimana menurutmu akhir dari buku itu?" Percakapan kami tentang buku "Norwegian Wood" terus berlanjut hingga kami kembali lagi ke kantor dan bertemu lagi dengan pekerjaan yang sempat tertunda.

Sambil menatap layar kerjanya, dia bertanya "Apakah kau sibuk malam ini?"

Aku berusaha mengingat-ingat sebentar, "Sepertinya tidak, ada apa?"

"Aku ingin mengajakmu makan malam. Tenang saja, aku yang bayar." Ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan dompetnya.

Biasanya aku akan menolak ajakannya. Aku selalu merasa tidak enak jika seseorang meneraktirku untuk makan. "Tetapi aku hanya bisa sampai jam 8, aku berencana untuk memulai membaca buku lainnya yang ada di rumah."

"Oke. Tenang, kita bakal makan enak kok!" Dia merangkulku dan membisikannya, lalu kamipun tertawa kecil.

Waktu berlalu dengan cepat, tetapi pekerjaan ini tidak ada habisnya. Aku terpaksa lembur, seharusnya sudah sejam yang lalu aku pulang, sekarang sudah jam setengah 7. Melelahkan sekali, leherku terasa sangat kaku. Sedikit lagi, sebentar lagi selesai.

Pada akhirnya, aku meninggalkan pekerjaan itu hampir di jam 7. Aku tidak enak membuatnya menunggu, tapi mau bagaimana lagi, hari ini rasanya benar-benar terkuras.

"Maaf lama ya." Ucapku, tidak enak dengannya yang sudah lama menunggu.

Dari kursinya dia berdiri, "Ah, sudah ya? Ayo. Saatnya kita santai."

Sudah hampir semua ruangan gelap, aku tidak terlalu mempercayai mistis, tetapi kantor ini rasanya horor di saat gelap. Seperti ada sesuatu yang melihat dari belakang. Untungnya aku tidak sendirian di tempat ini. Kami berjalan mengelilingi sekitar. Aku tidak tahu dimana tempat yang akan kami tuju, aku hanya mengikutinya dan kami mengobrol ringan. Cahaya-cahaya yang asing saat siang kini mulai muncul, memenuhi gelap yang ada di sekitar.

Kami berjalan cukup jauh, aku masih tidak tahu akan dibawa kemana untuk makan. Kami sudah melewati setidaknya dua tempat makan yang bisa dikatakan bagus untuk acara makan-makan. Tidak terasa, di depan aku melihat tempat yang kemarin ku datangi, restoran mewah itu. Kali ini tempat itu terlihat ramai, tidak seperti sebelumnya saat aku datang.

"Kemarin aku makan di sini." Ucapku sambil menunjuk restoran itu. "Rasanya lumayan, tetapi cukup mahal."

"Oh, kelihatanya menarik." Ucapnya. Matanya melihat melalui kaca yang bersih, "Tapi sangat ramai. Bahkan masih ada yang mengantri."

"Benar juga." Jawabku.

"Ya sudah, kita makan di tempat lain. Di dekat sini ada tempat biasanya aku makan. Kita makan di sana saja." Usulnya. Aku mengiyakan, lagi pula aku yang di ajak, tidak mungkin aku malah merekomendasikan restoran mahal dan membuatnya bangkrut.

Kami akhirnya sampai di sebuah restoran, terlihat hampir sama mewahnya dengan restoran yang kemarin, tetapi lebih sepi. Aku tidak yakin untuk masuk, aku benar-benar tidak ingin dia membayar makanan yang mahal untukku. Dia masuk terlebih dahulu, lalu menahankan pintu untukku, mau tidak mau aku harus masuk.

Kami mengambil tempat di dekat jendela, tempat ini juga terlihat mewah, tapi rasanya sangat berbeda jika dibandingkan dengan restoran kemarin. Untungnya tempat ini menjual menu yang tidak terlalu mahal, jadi aku tidak perlu terlalu memikirkannya.

Saat pelayannya datang, entah kenapa aku teringat Hana. Tidak, pelayan ini tidak mirip sedikitpun dengan Hana. Rambutnya panjang, tubuhnya sedikit lebih berisi, wajahnya tidak memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, tidak seperti Hana.

Saat pelayan pergi, dia mulai berbicara. "Apakah kau tahu kenapa aku mengajakmu makan?" Tanyanya dengan ekspresi menebak-nebak isi pikiranku.

Aku sendiri tidak tau, dia juga bukan tipe orang yang banyak berbicara untuk urusan seperti ini. "Tidak tahu. Apakah kamu naik gaji? Makanya ingin mengajakku makan-makan."

"Tidak. Kau salah." Katanya dengan nada senang. "Aku akan berhenti bekerja."

Apa yang dia ucapkan seperti serangan kejut. Rasanya aku ingin melompat setelah mengetahui itu. Dia adalah salah satu bagian penting di kantor, bagaimana bisa dia berhenti.

"Apakah kamu bercanda?" Tanyaku, "Kamu adalah salah satu bagian penting di kantor."

"Aku mendapatkan tawaran yang lebih menarik di suatu tempat. Lingkungan kerjanya juga lebih baik."

"Tapi bagaimana dengan posisimu sekarang, bukankah di sini posisimu juga sudah lumayan?"

"Itu sempat menjadi pertimbangan, tapi aku tetap akan pergi. Kalaupun lebih buruk, setidaknya itu adalah pilihanku."

Kami tidak banyak bicara setelah itu, rasanya jadi canggung untuk melanjutkan pembicaraan. Sesekali dia menanyakan beberapa hal padaku, aku menjawabnya sebisaku.

Pada akhirnya, dia akan pergi. Jika tidak sekarang cepat atau lambat dia akan pergi, meninggalkan semua yang tersisa dan maju ke dunia baru. Aku akhirnya pulang duluan karena waktu sudah menunjukan hampir jam 9, sudah melewati waktu yang ku sediakan tadi. Sebelum pergi, aku menyelipkan selembar uang di bawah piring saat ia tidak terlalu fokus pada meja. Mau bagaimanapun rasanya tidak enak untuk merayakan dia yang akan berpisah dan melihatnya meninggalkan kantor menjadi kenangan yang tidak bisa diulanginya lagi.

Karena sudah tahu aku tidak akan bisa sampai di rumah saat jam 9, jadinya aku memutuskan untuk mengelilingi kota ini. Ditemani oleh malam dan cahaya neon di sekitarku, aku melewati banyak tempat sebelum sampai di apartemen. Dan akhirnya aku melewati sebuah toko buku. Aku memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat. Aku tidak tahu sebelumnya masih ada toko buku yang buka semalam ini. Bahkan perpustakaan umum sudah tutup jam segini, tapi toko buku masih bercahaya. Disambut dengan aroma buku baru adalah rasa yang menyenangkan, melihat berbagai warna yang ada di sampul buku juga tidak kalah menyenangkan. Melihat harganya saja yang tidak menyenangkan.

Selama melihat-lihat, aku akhirnya sampai di rak buku internasional. Banyak judul-judul buku yang terkenal, salah satunya adalah Haruki Murakami. Aku teringat dengan rekan kerjaku, dia sangat menyukai Haruki Murakami. Ada banyak judul buku Murakami, setelah melihat-lihat cukup lama di rak itu saja, akhirnya aku mengambil "After Dark" dan juga "Dance, Dance, Dance". Aku berencana untuk mengoleksi "After Dark" dan memberikan "Dance, Dance, Dance" kepadanya sebagai hadiah perpisahan. Bagaimanapun dia sudah memberikanku hadiah dan aku belum pernah memberikannya apapun.

Setelah membayar kedua buku itu, aku pun angkat kaki dari toko buku itu, meninggalkan hal-hal yang menurutku indah di dalamnya. Aku harus melanjutkan perjalananku untuk pulang, tubuhku sudah terasa lelah dari ujung kaki hingga ujung rambut. Jalanan malam semakin sepi, sudah terlalu malam untuk seekor kucing mencari tikus di dalam gelap.

Melangkah di temani angin yang dingin, tanpa sadar aku melewati restoran itu. Dalam waktu kurang dari 3 jam, tempat itu kini sudah dengan suasana yang berbeda, tanpa keramaian di dalamnya, hanya ada beberapa orang yang menikmati malam mereka dengan menyantap makanan. Melalui kaca, aku melihat seseorang yang sempat muncul di kepalaku, sedang melayani pelanggan yang datang. Lalu ia melihat keluar, dan mata kami bertemu. Ia mengangkat tangannya seperti memanggil, senyumnya masih sama dengan yang kemarin. Aku juga tersenyum, sebelum akhirnya dia menghilang entah kemana untuk melanjutkan kerjanya.



***


Akhirnya, semua berlalu dengan cepat. Sudah 2 tahun berlalu, kemarin rasanya berat untuk melihat teman kerja pergi, sekarang aku yang harus Bersiap untuk pergi, meninggalkan semua yang ada di kota ini. Sekarang sudah saatnya aku harus pulang ke rumah. Waktu yang singkat untuk sebuah perjalanan hidup.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk Kembali ke rumah orang tuaku dan mengejar sebuah mimpi lama. Membuka sebuah toko mi di dekat pesisir Pantai. Sepertinya kota megah dengan berbagai Cahaya yang menyilaukan bukanlah tempat yang ditakdirkan untukku menjalani sebuah hidup.

Dulu saat aku masih lebih muda, mungkin saat masih kelas 2 SMP, Awalnya kami ingin menghabiskan waktu dengan bermain air laut di sekitar pantai, tetapi karena pasang air laut yang terlihat tidak bagus untuk bermain air, jadi rencana itu harus dibatalkan. Jadinya kami mengunjungi sebuah toko mi yang ada di dekat sebuah pantai, hanya dipisahkan oleh jalanan sebelum langsung bertemu dengan pasir dan laut. Toko itu di cat dengan Sebagian besar warna biru dan diiringi dengan warna putih yang mulus.

Aku sudah lupa Sebagian besar menu yang disediakan oleh toko itu, yang aku ingat hanyalah mi kuah daging asin karena itu yang dulu aku pesan. Aku tentu sudah tidak mengingat bagaimana rasanya, tapi aku masih ingat kalau dilu rasanya enak, ditambah aku juga makan Bersama dengan teman-temanku. Rasanya seperti bernostagia saat di pikirkan.

Sekarang aku sedang berkemas, barang-barang harus di masukan ke kotak-kotak kardus, dipisahkan sesuai dengan kategorinya. Sebagian yang tidak kupakai akan dijual, yang masih mungkin bisa kugunakan akan kupindahkan ke dalam kotak. Aku sudah berhenti 3 hari yang lalu. Sebenarnya sedikit sulit untuk berhenti, karena sejak rekanku berhenti kantor itu selalu kesulitan mencari pengganti yang pas. Sehingga kantor selalu hampir kekurangan karyawan di bagianku, untungnya saat itu aku masih diperbolehkan untuk berhenti. Dan sekarang hampir Sebagian besar barang sudah masuk ke kotak.

Untuk apartemen ini, aku menyewanya untuk waktu 5 tahun, awalnya kupikir aku akan lama di sini, tetapi pada akhirnya aku bahkan tidak sampai 5 tahun. Jadinya aku sewakan apartemen ini kepada kenalanku di kota ini. Apartemen ini cukup luas, berada di Tengah kota, jadi tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk diinginkan oleh banyak orang. Aku hanya harus memikirkan bagaimana cara cepat mengemasi barang-barang ini.

Untuk terakhir kalinya aku mengelilingi kota ini, waktu yang singkat untuk singgah, tetapi tidak terlalu singkat untuk disenangi. Pada akhirnya aku memang harus pulang, seperti kata pepatah “Seenak apapun makanan dan masakan di luar sana, masakan ibu di rumah jauh lebih enak”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miyasa

Sayang

Fotonya Blur