Miyasa

Kami seharusnya sedang jalan-jalan santai sekarang. Tetapi dikarenakan hujan yang turun dari jam 2 siang tidak kunjung berhenti mau tidak mau rencana itu harus dibatalkan. Kami berdiam diri di rumah, teleponan sambil ditemani rintik-rintik air hujan yang perlahan membasahi kota ini. Hari ini kurang beruntung, entah kenapa terpikir olehku.

Rencana yang sudah kususun tentu menjadi berantakan sekarang, tetapi alam memang tidak pernah bisa diprediksi. Setidaknya kami masih bersama walaupun jarak yang jauh memisahkan kami. Asa bukan tipe orang yang suka berbicara banyak di telepon, aku juga begitu, hanya mendengar suara hujan yang sama di tempat yang berbeda. Rasanya aneh.

Asa sepertinya sedang membaca buku, dia begitu tenang, tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya. Sedangkan aku sekarang hanya melamun, menatap kehijauan sekitar yang basah.

Sebenarnya kami tidak memiliki sebuah hubungan pasti, tidak memiliki sebuah ikatan ataupun status. Aku pernah mengungkapkan perasaanku kepadanya. Saat itu aku bangun lebih pagi dari biasanya, setelah semua siap, aku langsung pergi mengelilingi kota, mencari orang-orang yang menjual kumpulan bunga. Bunga yang kubeli saat itu terlihat cantik sekali, aku bahkan membayangkan reaksinya saat menerima bunga itu. Kurasa dia akan senang, gumamku dalam hati.

Setelah itu, aku mampir sejenak untuk membeli sebatang coklat dan juga permen karet. Permen karet untukku, aku memiliki kebiasaan gugup yang berlebihan, sehingga aku perlu sesuatu untuk memecahkan perasaan gugup sebelum aku memberikan coklat dan bunga kepada Asa.

Seharusnya ada satu hal lagi yang akan kuberikan, boneka kecil. Sayangnya aku lupa akan itu. Aku teringat soal boneka setelah sampai di kasir untuk membayar coklat tadi. Tidak ada tempat yang menjual boneka sepagi ini. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, tidak mungkin aku menunda untuk memberikan semua ini hanya karena satu boneka kecil.

Tidak sulit untuk menemukan Asa, dia selalu berada di sekitarku, mudah untuk mencarinya. Sebelum memberikan semua benda itu, aku mengunyah permen karet, aku kunyah hingga rasa manisnya hilang dari mulutku dan langsung kubuang di dekat pohon. Oke, sekarang saatnya.

 "Asa ..." Aku memanggilnya, dia langsung menoleh.

Aku menarik nafas, mengingat kata yang sudah kusiapkan sebelumnya. "Miyasa, banyak hal yang sudah terjadi kepada kita, aku tahu ini mungkin membuatmu tidak nyaman dan merusak sesuatu yang sudah kita bentuk, tapi kurasa aku tidak bisa memendamnya lebih lama. Aku menyukaimu." Lalu aku menyerahkan kumpulan bunga dengan coklat di tengahnya.

Dari ekspresi wajahnya terlihat kaget, tetapi juga terlihat seperti sudah tahu akan kejadian ini. Aku menjadi gugup, sekarang aku menyesal telah membuang permen karet itu. Asa kemudian tersenyum, lalu menerima hadiah itu dengan lembut.

Sekarang aku merasa aneh sekali mengingat itu di tengah hujan yang bertambah deras. Terasa sunyi di tengah bisingnya air hujan yang menetes, dunia terlalu cepat bergerak. Momen itu terasa seperti baru saja kemarin terjadi.

"Vin," Panggil Asa, memecah lamunanku yang menatap daun basah.

"Ha? Kenapa?" Tanyaku

"Menurutmu, gimana kalau misalnya ada orang yang deketin aku?" Dari cara berbicaranya, sepertinya memang dia sedang membaca buku, tetapi cara berbicaranya terasa berbeda.

Aku menghela napas, membayangkan seseorang yang baru datang ke dalam hidup Asa tiba-tiba menyukainya. Menurutku Asa adalah tipe orang yang mudah untuk disukai oleh siapapun, wajahnya lumayan, sifatnya sangat baik. Hanya saja sedikit yang bisa mengerti tentangnya. "Ya, baguslah." Jawabku. "Jika dia memang orang yang baik untukmu, kenapa tidak?"

"Kamu tidak marah?"

"Marah untuk apa?" Kali ini, mataku kembali terfokus pada dedaunan hijau yang basah.

"Tidak. Lupakan saja. Maaf, pertanyaannya aneh."

Aku merenungi apa makna pertanyaannya. Apakah ada orang lain yang mendekatinya? Aku tidak tau. Jika iya, aku hanya takut. Takut akan kehilangan waktu bersamanya seperti sekarang.

"Asa," Panggilku dengan mata yang masih menatap kosong halaman depan.

"Iya" Jawabnya, masih terdengar suara hujan di kejauhan sana, tapi sepertinya sudah reda di sana.

"Kapan kamu punya waktu kosong?"

"Sebentar," Ada jeda selama 1 menit hening. "Rabu sore." Jawabnya.

Aku memeriksa jadwalku juga, kebetulan kosong. "Mau jalan?"

Ada keheningan, terasa lama. Seperti ada sesuatu yang mencengkram tengorokanku.

"Iya, ayo." Asa akhirnya menjawab dengan yakin. Rasa aneh itu menghilang seketika.

"Oke. Sekitar jam 4 aku bakal datang ke rumah." Ucapku.

Setelah itu kesunyian kembali diantara kami berdua, kembali mengisi ruangan kosong yang sempat diisi dengan percakapan kami. Telepon kami pun berakhir sekitar 2 jam setelah itu. Perpisahan singkat kembali datang, mengantar rasa takut akan kehilangan Asa ke dalam pikiranku.

Hujan selesai di jam 9 malam, aku sudah akan bersiap untuk tidur, besok hingga rabu sore akan menjadi hari yang panjang untuk dijalani. Aku sudah terbaring di kasur, menarik selimut dan memejamkan mata. Semoga hari rabu cerah, harapan kecil sebelum terlelap panjang.

 

***

 

Besok aku akan mengungkapkan perasaanku kepada Asa. Miyasa! Malam ini aku langsung pergi menuju pusat perbelanjaan, tempat yang jarang kudatangi karena tidak menarik di dalamnya. Tidak seperti ingatan terakhirku, tempat ini terlalu bercahaya, terlalu terang untukku. Aku langsung pergi mencari apa yang aku incar, sebuah boneka kecil.

Setelah mendapatkan boneka, menurutku tidak ada salahnya untuk langsung mencari bunga disini. Aku berkeliling cukup lama, tempat ini tiba-tiba terasa sangat luas. Banyak lorong yang terasa memanjang, beberapa lorong bahkan terasa asing. Seharusnya lorong itu tidak berada di sekitar sini. Akhirnya aku mendapatkan apa yang kucari, Rasanya senang bisa menemukannya di tempat yang aneh ini.

Kebetulan aku melewati dua hal yang sepertinya akan cocok untuk Asa. Aku menunduk untuk melihatnya lebih jelas. Sebuah penjepit rambut dengan bentuk yang lucu, sepertinya akan sangat cocok untuknya. Langsung kuambil tanpa pikir panjang. Dan juga sebatang coklat. Anehnya aku dari tadi melewati banyak lorong dengan berbagai coklat di kiri dan kananku.

Saat aku keluar dari tempat yang terang itu, langit entah mengapa bergeser terlalu cepat, sekarang terlihat biru gelap di kejauhan sana. Apakah sekarang sudah subuh? Berapa lama aku di dalam tempat itu?

Ah, sudahlah. Itu tidak penting. Sekarang sudah akan pagi, aku segera berlari dengan barang-barang ini di tanganku, berlari ke tempat seharusnya Asa berada. Rasanya aku berlari dengan jarak yang jauh, tetapi aku tidak merasakan kelelahan. Terangnya langit pagi sudah menyinari sekitar, aku sampai ke tempatnya tepat waktu. Aku sudah berada di depan pintu.

Aku membuka pintu itu. Ada Asa di dalam ruangan yang terasa familiar ini, Tetapi Asa terasa berbeda. Rasanya sudah sangat lama tidak melihatnya dengan rambut pendek itu. Seingatku pertemuan terakhir kami, Rambutnya masih panjang.

"Asa ..." Panggilku. Dia tidak menoleh.

Aku mendekat, mencoba memanggilnya lagi. "Asa ..."

Akhirnya dia menyadari ada yang memanggilnya. Ia menoleh kepadaku.

"Miyasa, aku tau ini mungkin Tiba-tiba dan terlalu cepat, aku menyukaimu."  Kata itu akhirnya terungkap melalui mulutku.

Reaksi Asa kaget, tetapi itu terasa berbeda. Dia terlihat sangat senang, tetapi juga terlihat sangat aneh. Aku merasa seperti pernah melakukan ini tetapi semuanya terasa berbeda. Rasanya seperti memenangkan undian berhadiah besar di saat-saat terakhir. Kemenangan yang terasa aneh.

Asa terlihat seperti ingin mengungkapkan sesuatu.

Tiba-tiba sekelilingku berubah mejadi putih, tidak. Terang, semua terlihat bercahaya, sangat menyilaukan.

 

***

 

Hari berganti dengan cepat, sekarang sudah hari selasa jam 7 malam. Mimpi malam itu terasa aneh, aku rasa tidak pernah merasakan mimpi seaneh itu. Aku memang pernah memiliki mimpi yang berhubungan dengan Asa, tetapi aku sudah lupa apa mimpi itu.

Aku berusaha tidak memikirkan mimpi aneh itu, tidak ada manfaatnya juga untuk memikirkan sebuah mimpi kosong. Aku harusnya mempersiapkan diri untuk besok. Lemariku banyak sekali baju, tetapi hanya beberapa yang dipakai. Selebihnya hanya menjadi baju sekali pakai, atau bahkan belum pernah dipakai sebelumnya.

Mataku melirik kaos polo dengan warna biru gelap. Baju itu berada di bawah dari banyaknya tumpukan baju yang kupunya, sepertinya belum pernah kugunakan.

Setelah makan malam, aku bersiap untuk tidur. Aku ingin hari rabu datang lebih cepat, aku sudah ingin bertemu dengan Asa. Semoga besok tidak hujan lagi seperti hari minggu kemarin.

Besok itu kini sudah berganti menjadi hari ini, untungnya aku tidak mengalami mimpi aneh seperti kemarin-kemarin. Aku sudah mempersiapkan pertemuan ini, terbangun dengan perasaan tak sabar bertemu lagi dengannya. Sebenarnya aku merasa kurang sehat, rasanya hari ini ada dingin di bawah terangnya matahari. Aku akhirnya mengenakan mantel panjang berwarna hitam yang kupunya untuk mengusir rasa dingin itu. Saatnya pergi menjumpainya.

Aku berjalan kaki untuk menjumpai Asa. Rasanya aneh dilihat oleh banyak orang, tetapi kurasa memang terlihat aneh mengenakan mantel panjang di saat cuaca sedang bagus. Selama perjalanan aku terus memikirkan pertanyaanya tentang bagaimana jika ada orang lain yang menyukainya. Entah mengapa pertanyaan itu melekat dan mengulang-ulang di kepalaku.

Setelah 20 menit perjalanan dengan pemikiran aneh yang terus muncul, akhirnya aku sampai di depan rumah Asa. Akupun langsung memencet bel rumah yang berada di sebelah pintu. Terdengar suaranya yang berteriak dari kejauhan, "Sebentar,"

Tidak lama, Asa keluar dengan penampilannya yang sudah berubah. Rambut panjangnya dipotong pendek hingga sejajar dengan dagunya, rasanya sudah lama tidak melihat rambut pendek itu padanya. Dia mengenakan kaus putih dengan tulisan "MANHATTAN". Dia terlihat cantik sekarang, mataku seperti tersihir oleh sesuatu.

"Ayo." Ucapnya yang melihatku terpaku memandanginya.

Aku mengangguk pelan, kami mulai menghabiskan waktu sore ini bersama.

Yang kami lakukan hanyalah berjalan. Mengelilingi kota yang terasa sepi ketika hari kerja. Beberapa pejalan lainnya melihati kami, aku rasa karena penampilanku, atau mungkin karena penampilan Asa? Apakah dia menyadari mata yang dari tadi melihat kami? Entahlah, yang terpenting sekarang aku bersama denganya dan menikmati waktu yang ada untuk kami berdua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sayang

Fotonya Blur