Sayang
Tak terhitung sudah berapa kali aku mendatangi tempat ini. Tempat yang tidak menyenangkan sama sekali, aku benci dengan tempat ini. Aku kembali melewati lobi rumah sakit yang selalu terasa aneh untuk dilewati. Setelah berbincang dengan resepsionis, aku menghampiri ruangan bernomor 14. Ahh, aku sudah hafal bagaimana isi dari kamar ini, dua kasur yang tidak begitu besar. Di kasur yang dekat dengan jendela yang menghadap keluar rumah sakit, ada seseorang dengan parasnya yang cantik di mataku terbaring lemas di atasnya. Setiap membuka pintu itu entah kenapa rasanya air mataku mencoba menerobos keluar dari kelopak mataku.
Aku menghampiri kasur itu. "Pagi, Sayang!" Sapaku dengan wajah bersemangat dan senyum yang kupaksakan. "Udah sarapan belum?"
Mila tersenyum lebar ke arahku. Ia mengangguk perlahan "Udah tadi sama Mama, makanannya enggak enak banget."
Aku menarik kursi dan membawanya lebih dekat menuju ke Mila, "Tapi harus di makan, biar cepat sembuh."
Hatiku menjadi gundah gulana saat mengatakan itu, rasanya sangat berat. Harus berapa kali lagi aku berbohong, batinku.
"Aku kangen dunia luar. Aku kangen jalan-jalan sama kamu." Ungkapnya dengan mata yang melihat ke luar melalui jendela. "Iya, nanti kalau sudah keluar dari sini, kita jalan-jalan ke manapun yang kamu mau."
Seketika Mila mengalihkan pandangannya dengan matanya yang berbinar. "Serius? Janji ya."
"Iya. Janji." Mila terlihat sangat senang, ia kembali melihat dunia luar melalui jendela kecil di dekatnya. Melihatnya di waktu sekarang, aku kembali teringat dengan waktu-waktu awal kami berpacaran, waktu dimana dunia begitu indah untuk dijalani, waktu dimana dunia berpihak pada kami.
Saat itu, aku menunggunya di atas motorku, menunggu seorang putri keluar dari kastilnya. Ia mengenakan pakaian yang sederhana tetapi tetap terlihat cantik. Kaus dengan warna biru langit, dilapisi dengan cardigan rajut kesayangannya. "Kamu mau kita pergi ke mana?" Tanyaku antusias.
"Kemana aja, yang penting sama kamu." Jawab Mila dengan wajah yang terlihat malu-malu.
Aku mengangguk cepat. Kukenakan helm di kepalanya, kuturunkan footstep motorku, lalu Mila naik ke atas motor. Kubawa motorku pelan, mengelilingi jalanan kota yang luas. Kami melewati beberapa tempat, hingga akhirnya kami melewati jalanan dengan pemandangan sungai.
Aku memberhentikan motor tidak jauh dari sungai, kami turun dari motor dan duduk menghadap ke sungai dengan aliran yang tenang. Kami menikmati waktu yang ada hingga langit senja berwarna jingga keemasan datang. Kedatangan dokter memecahkan lamunan kami berdua, aku pun keluar dari kamar dan membiarkan dokter melakukan pengecekan kepada Mila. Saat berada di luar, aku bertemu dengan Mama Mila, "Pagi Tante." Ucapku memberikan salam.
"Kamu enggak datang setiap hari gapapa loh Rio. Cape juga kamu harus bangun pagi cuman buat ke sini." Ucap Mama Mila dengan nada tidak enak merepotkan.
Akupun tersenyum canggung, "Gakpapa kok Tan."
"Jadi kerjaan kamu gimana? Kamu hampir setiap hari kesini," Tanya Mama Mila.
"Kebetulan belakangan ini dapetnya shift malam Tan, jadi bisa di sini dari pagi sampe sore." Jawabku.
Percakapan kami terhenti dengan keluarnya dokter dari kamar pasien. Karena tidak ingin mengganggu percakapan mereka, akupun kembali masuk ke kamar itu untuk menemani Mila.
"Sayang, mau apel." Pinta Mila dengan polos.
Aku mengangguk, "Sabar ya, aku kupasin dulu oke?"
Mila tersenyum manis lalu mengangguk. Aku pun mengambil apel yang ada di atas meja, mencuci lalu mengupas apel itu. Setelah apel itu terkupas dan di potong kecil, aku pun mencuci lagi apel itu. "Ini, apelnya udah siap."
Aku menyuapi potongan kecil apel itu ke dalam mulut Mila. Dia terlihat menikmati enaknya apel itu, sungguh manis melihatnya walau hanya memakan apel.
Aku menemani Mila hingga langit yang awalnya biru kini telah berganti ke warna jingga. Aku pun pamit kepada Mila dan Mamanya untuk bersiap pergi kerja. Berat rasanya harus pergi meninggalkan Mila di ruangan itu, aku ingin menemaninya selama yang aku bisa. Aku ingin melihatnya tertidur lelap dengan telingaku yang mendengar dengkurannya.
Sekarang aku tengah berada di atas motorku, di perjalananku pulang, mataku melihat ke arah toko perhiasan. Akhirnya aku menepikan motorku di depan toko itu, lalu aku masuk ke dalamnya untuk melihat-lihat.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ungkap Laki-laki setengah baya dengan senyuman ramah.
Aku melihat-lihat etalase yang memajang cincin, "Kira-kira cincin apa yang bagus pak?"
"Pertanyaan bagus! Sebentar ya." Pria itu mencari cincin yang sepertinya sudah disiapkan untuk saat seperti ini. "Ini mas," Tangannya menunjukan cincin dengan bunga kecil yang cantik. "Cincin ini bagus loh mas kalau buat pasangannya."
"Iya pak, kebayang kalau ini ada di jarinya dia." Ungkapku terkagum-kagum.
Laki-laki setengah baya itu tersenyum senang. "Bagus kalau gitu mas, mau langsung di bungkus atau mau lihat yang lain lagi mas?" "Boleh langsung di bungkus deh pak."
Setelah membayar cincin itu, aku menyimpannya di saku bajuku. Cincin yang bagus, harganya tidaklah murah, tetapi tak apa. Ini akan bagus untuk dikenakan Mila.
Keesokan harinya kurasa untuk pertama kalinya aku datang ke rumah sakit dengan senyum dan senang yang terukir jelas di wajahku, aku sudah mempersiapkan cincin itu di saku celanaku. Tak sabar rasanya untuk memberikan hadiah istimewa itu kepadanya.
Seperti di hari lainnya, aku mendatangi meja resepsionis. Aku pun bersenandung lagu-lagu yang sering kami berdua dengar disaat sedang bersama, sampai langkahku terhenti tepat di depan pintu kamar 14, dihentikan oleh Mama Mila yang sepertinya sudah menunggu kehadiranku disana.
"Pagi Tante." Sapaku dengan wajah yang masih berseri-seri.
"Pagi Rio." Jawabnya dengan nada yang begitu dingin, aku merasakan akan ada sesuatu yang tidak mengenakan akan terjadi.
"Rio... Kamu enggak usah ketemu Mila lagi ya." Pintanya. "Tante mohon."
"Tunggu, ini gimana maksudnya Tante?" Jawabku seperti orang linglung yang hilang arah.
Mama Mila menarik nafas panjang, seolah akan mengungkapkan sesuatu yang panjang. "Demi kebaikan kamu, demi Mila. "
"Mila kenapa Tante? Dia kenapa?" Kini aku semakin hilang akal. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Lupain Mila dan mulai jalani hidup baru kamu Rio." Kata Mama Mila, kali ini dengan nada yang terdengar sedih. "Maaf ya, Rio."
Tak lama Dokter datang, Mama Mila menganggukan perlahan kepalanya seperti ucapan selamat tinggal kepadaku. Dengan pikiran yang kosong aku mengangkat kaki dari tempat itu, aku langsung memacu cepat motorku, meninggalkan rumah sakit itu. Aku membawa motorku hingga ke tepi sungai, tempat yang sama saat dulu kami bermesra. Aku duduk di bawah pohon, tatapan mataku menyoroti aliran sungai yang terus mengalir. Kosong.
Ada sekitar tiga jam lebih aku melamun kosong di bawah pohon, hingga akhirnya hujan turun perlahan, menciptakan puluhan riak air di sungai itu. Aku mengeluarkan kotak cincin itu dari saku celanaku, kubuka perlahan, kulihat cincin itu. Cincin yang cantik, sayang sekali aku tidak bisa melihat Mila memakainya.
Komentar
Posting Komentar