Tentang Seseorang
Saat itu, umurku 16 tahun, seorang remaja dengan waktu yang terus berjalan dan terasa menyenangkan. Tidak ada yang tidak menyenangkan saat itu, aku punya segalanya. Aku punya banyak teman, walaupun mereka tidak bisa dikatakan baik, tetapi mereka temanku. Aku juga punya orang yang bisa kuanggap sebagai orang Istimewa.
Dia adalah kakak kelasku, orangnya manis, bahkan saking manisnya kurasa lebah akan meninggalkan madu untuk mendapatkannya. Dia juga orang yang baik, satu-satunya orang yang aku tau apapun yang dia lakukan adalah kebaikan. Namanya Aulia. Aulia Kirani Putri.
Saat itu aku sedang mengantarkan temanku ke UKS, hipotensinya mendadak kumat jadi kami mencari obat di UKS. Disaat itu lah bertemu dengannya, dia sedang bertugas untuk menjaga ruangan UKS yang sepi pengunjung. Saat kami datang, mataku langsung terpanah melihatnya yang sedang membaca buku dengan kacamata bulatnya.
Aku mengetuk pelan pintu UKS itu, ia langsung menoleh. "Permisi kak."
Dia langsung menutup bukunya dan meletakan buku itu di pangkuannya, "Iya ada apa?" Ucapnya dengan begitu lembut. Hatiku meleleh seketika.
"ee, ini kak, temen saya pucat, lemes." Kataku menahan salah tingkah.
Dia menyerengitkan wajah, "Temannya sakit?"
"Iya kak, kayaknya rabiesnya kumat." Aku melontarkan candaan, disusul dengan tendangan yang mendarat tepat di tulang keringku.
Dia tersenyum, berusaha menahan tawa. "Kalau itu coba di bawa ke dokter hewan aja. Disini gak bisa nolongnya."
Tawaku pecah di saat itu juga, ternyata dia orang yang lucu. "Darah rendah kak. Darah rendah." Kata Beni dengan mukanya yang sudah memerah.
Kami diarahkan ke kasur yang ada di ruangan itu, Beni langsung disuruh untuk istirahat di sana. Dengan gesitnya ia membuat teh hangat yang langsung disuguhkan kepada Beni.
"Untuk dia aja kak? Untuk sayanya?" Aku menggodanya.
"Kamu mau? Emangnya kamu sakit apa?" Tanyanya, membalas godaanku.
"Aduh, ini kak, jantung saya detaknya cepat banget. Kayaknya serangan jantung." Ucapku melebih-lebihkan.
Dengan wajahnya yang tenang, ia menjulurkan tangannya ke dadaku, "Engga ah, normal ini." Ucapnya tersenyum. "Kamu bohong."
jujur saja, awalnya aku memang berbohong, tetapi setelah ia menyentuh dadaku, jantungku rasanya langsung berdegup 2 kali lebih kencang daripada biasanya. Kurasa dia tidak menyadarinya.
Begitulah pertemuan pertama kami. Kurasakan sesuatu yang aneh setelah keluar dari ruangan UKS, seperti ada perasaan ingin bertemu, tapi bukan bertemu dengan Beni tentunya. Bertemu dengan seseorang yang manis dengan memegang buku dan mengenakan kacamata.
Perasaan aneh itu tidak bertahan lama, tepat besoknya aku mengunjungi lagi ruangan itu. Aku bertemu lagi dengan perempuan itu, sekarang dia terlihat semakin cantik dengan rambutnya yang dikepang. Jantungku kembali berdegup lebih cepat, sepertinya jika diteruskan aku bisa kena serangan jantung di tempat.
Kali ini dia duluan yang menyapaku, "Halo, kamu kenapa? Ada yang bisa dibantu?" Ucapnya dengan senyum lebar yang membuatnya terlihat jauh semakin cantik. Aku butuh dokter jantung sekarang.
"Jantung aku sakit lagi kak." Aku menjawab dengan wajah yang hampir sepenuhnya merah.
"Kamu, modus, kan?" Ucapnya dengan ekspresi wajah penuh curiga.
Sekarang rasanya aku seperti dipanggil tuhan, bahkan dengan wajah curiga saja dia tetap terlihat manis.
"Eh ini—"
Tiba-tiba ada seseorang laki-laki muncul, badannya sedikit mirip denganku, aku belum pernah melihatnya di sekolah ini, itu pertama kalinya. Sepertinya dia siswa pindahan.
"Halo Aul, aku bawain makanan." Ucapnya sambil menunjukan makanan itu.
Dia pun melihatku, aku balik menatap matanya. Dia kira aku akan takut hanya dengan ditatap? Aku tidak selemah itu.
Dia meletakan makanan itu di meja, lalu merangkulku dan membawaku keluar dari ruangan UKS.
"Lo ngapain di UKS?" Tanyanya dengan nada mengintimidasi.
"..."
"Lo mau deketin Aulia?" Tanyanya. "Kalau lo mau deketin dia, sorry sorry aja ya."
"Memangnya dia pacar lo?" Tanyaku dengan nada menentang.
"Engga sih." Kali ini nada berbicaranya berbeda. "Tapi kalau lo mau ngdeketin dia, berarti lo ngajak gue ribut."
"Siapa yang takut. Ayo aja!"
Setelah itu kami beradu pukul. Beberapa pukulanku mengenainya telak, tetapi dia masih bertahan. Pukulannya beberapa kali meleset, tetapi setiap pukulannya yang mengenaiku terasa sangat menyakitkan. Aulia pun keluar dari ruangan UKS untuk melihat ribut-ribut apa yang terjadi.
Ekspresi wajah Aulia berubah seketika melihat apa yang terjadi di depannya, beberapa siswa yang berada di dalam kelas pun keluar untuk menyaksikan perkelahian kami. Aulia langsung mendekat untuk memisahkan kami, dia menarik laki-laki itu. Akupun berhenti memukulinya, tetapi sepertinya dia masih belum puas, secara tidak sengaja ia menyikut dan mengenai kepala Aulia.
Aulia pun menghentikan usahanya menahan laki-laki itu, dia memegangi kepalanya yang terkena sikutan itu. Akupun mendorong laki-laki itu menjauh, secepat mungkin aku mendekat ke Aulia.
"Kamu gapapa kak?" Tanyaku dengan wajah yang tersenyum, berusaha menyembunyikan panikku.
Air matanya turun perlahan melewati pipinya, aku semakin panik, dengan lembut aku mengelus bagian kepalanya yang terkena sikutan laki-laki itu.
Laki-laki itu tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia langsung mendorongku agar aku menjauh, aku tidak melawan dan membiarkannya.
"Maaf Aul. Gak sengaja kena, serius. Maaf." Ungkapnya penuh penyesalan.
"Pergi Bim. Pergi, jangan ganggu aku lagi." Ucap Aulia, menghapus air matanya dengan jari.
"Tapi—"
"Pergi! Sekarang!"
Laki-laki itu kesal setengah mati, dia memukul tembok yang ada di dekatnya, "Ah, anjing!" ucapnya dengan emosi yang meluap-luap, lalu pergi meninggalkan kami dan kerumunan orang yang menyaksikan kami. Aku hanya berdiri di samping Aulia, memberikan waktunya sendiri.
Orang-orang yang berkerumunpun pergi karena perkelahian telah usai. Aulia pun akhirnya bangkit dan berjalan masuk ke ruangan UKS, aku mengekori langkah Aulia dengan wajah yang terlihat jelas sangat muram. Saat Aulia masuk, aku memutuskan untuk tetap di luar, aku masih merasa bersalah kepadanya.
"Masuk." Ucapnya saat sadar aku tidak mengikutinya sampai ke dalam ruangan.
Aku membeku seakan tidak mengerti, "Masuk!" Kali ini nadanya meninggi, aku pun langsung masuk ke UKS.
aku terhenti di pintu, melihat Aulia yang terlihat sibuk mencari sesuatu. Dengan Betadine dan kapas di tangannya, dia menghampiriku yang membeku di daun pintu.
"Mana yang luka?" tanyanya sambil menuangkan Betadine ke kapas.
"Engga ada sih. lagian harusnya kamu yang—"
Lengan kiriku di tarik olehnya, dengan cepat ia memberikan obat kepada sikut kiriku. Aneh, bagaimana dia bisa tau. Aku bahkan tidak menyadari adanya luka itu. "Nambah-nambahin kerjaan tau gak!"
"Maaf." Entah mengapa hanya itu yang ku ucapkan.
"Udah. Kalau besok-besok kayak gini lagi, urus sendiri." ucapnya dengan nada marah.
Aku melihat ke arah kepalanya, terlihat sedikit membengkak, "Kamu gapapa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Dia memukulku pelan, bahkan tidak terasa seperti pukulan. "Aku khawatir sama kalian berdua. Lagian kenapa sih harus berantem segala!"
Tawaku lepas, aku terkekeh perlahan melihat tingkah Aulia yang terlihat menggemaskan. "Hehe-hehe. Orang ngomong itu dengerin." Ia menarik telingaku sampai terlihat merah.
Setelah perkelahian itu, aku jadi semakin dekat dengan Aulia. Setelah beberapa kali menghabiskan waktu dengannya, aku jadi mengetahui beberapa hal tentangnya. Satu, ia orang yang terbuka dan mudah untuk akrab dengan siapapun, aku bisa melihatnya saat orang-orang datang dan pergi dari ruangan UKS. Dua, Aulia adalah orang dengan semangat belajar yang tinggi. Walaupun aku hanya melihat dia hanya membaca novel, tetapi dia cukup pintar dan semangat jika menyangkut pembelajaran.
"Aku pengen lanjut kuliah." Ucapnya dengan mata berbinar yang melihat selembaran poster Universitas yang ada di tangannya.
Aku berdeham, berusaha memahami. Aku bukan orang yang ingin berlama-lama untuk mencari ilmu, waktu belajar adalah waktu yang paling membosankan untuk dilalui. Aku tidak mengerti apa tujuan orang lain untuk belajar lebih lama.
Aku mendukung keputusannya, jika Aulia sangat menginginkan itu, aku pasti akan mendukungnya. Aku jadi sering untuk pergi ke UKS, sekedar hanya untuk menemaninya belajar. Kami tidak sampai pacaran, menurutku jika kami melanjutkan hubungan ke tahap berikutnya, itu hanya akan mengganggu fokus Aulia. Lagi pula kami nyaman dengan satu sama lain tanpa perlu terikat akan hubungan kami.
waktu berlalu dengan cepatnya, Aulia sudah tidak terlihat lagi di sekitar sekolah setelah ujian akhir kelas 12 usai. Aku beberapa kali melewati UKS hanya sekadar untuk mengingatnya, mengingat waktu yang kami habiskan berdua di ruangan itu. sungguh manis.
Dia sedang sibuk belakangan ini untuk masalah perkuliahannya, aku mendapatkan kabar itu dari chatting dengannya melalui WhatsApp. Walaupun dia mulai sibuk, ia tidak lupa untuk bertukar kabar denganku.
kami akhirnya melakukan janji temu, mungkin bisa di anggap seperti kencan. Perpisahan sebelum dia pergi meninggalkan kota ini, untuk melanjutkan pengejaran ilmu di kota yang jauh. Dia terlihat cantik dengan kaus berwarna biru laut yang ditutupi dengan sebuah kardigan rajut berwarna coklat muda. Dengan motorku, kami pergi untuk menghabiskan hari terakhir Aulia di kota ini.
Destinasi pertama kami adalah bioskop. Kami berencana untuk menonton film, sebuah film tentang tentara yang terpaksa meninggalkan kekasihnya untuk pergi berperang. Di pertengahan film, aku merasa cerita ini seperti cerita aku dan Aulia. Tentara itu harus meninggalkan kekasihnya dikarenakan panggilan tugas untuk berperang, Aulia harus meninggalkanku untuk melanjutkan dunianya.
Saat film sudah mencapai akhir, aku melihat ke arah Aulia, air matanya mengalir melewati pipinya. Mataku juga berkaca-kaca. Tentara itu tidak dapat pulang kembali ke pelukan kekasihnya, harapan terbesar dari sepasang kekasih itu harus berkhir terlalu cepat.
Kami duduk hingga credit title usai, kurasa kami terjebak terlalu dalam akan film ini.
Aku melihat Aulia yang sedang menghapus jejak air mata yang ada di wajahnya. "Filmnya bagus ya," Mata kami saling pandang. "Sayangnya ending si tentara engga bisa ketemu kekasihnya lagi."
Air mata Aulia kembali muncul, membuat matanya berkaca-kaca. "Kalau aku jadi si kekasih, aku rasa aku engga bakal bisa menjadi orang yang tegar. Aku engga bakal bisa merelakan si tentara begitu aja."
"Aku rasa aku juga engga bisa." Wajahku seperti menampakan kesedihan yang sama dengan wajah Aulia. Aku engga bisa kehilangan kamu seperti kekasih kehilangan tentara itu, batinku.
Setelah dibuat mewek oleh film itu, kami pergi keluar untuk memakan bakso di pinggir jalan. Karena masih terbawa oleh suasana dari film itu, kami tidak banyak berbicara selama makan. Hening.
Selesai kami makan, kami kali ini pergi menuju ke tempat photobooth. Sebelumnya aku belum pernah mengambil gambar di photobooth, ini untuk pertama kalinya. bersama dengan Aulia.
Banyak gambar yang kami ambil. Hampir semuanya Aulia terlihat sangat lucu, dan entah mengapa terlihat... Cantik. Aku seperti merasa tersihir oleh penampilannya yang manis, aku tidak melihat Aulia yang aku kenal saat ini.
setelah melihat hasil foto kami, aku kembali merasa adrenalin yang dulu datang lagi. Jantungku berdegup cukup cepat.
"Fotonya lucu-lucu." Kata Aulia dengan ekspresi wajah yang gemas.
Aku melihat foto-foto itu, mataku hanya fokus melihat Aulia.
Aulia melihatku, "Ada apa?" Ekspresi wajahnya berubah.
"Engga. Engga kenapa-kenapa." Jawabku mengalihkan pandanganku jauh dari foto dan Aulia. "Ayo pulang."
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam; entah mengapa aku tidak ingin untuk berbicara banyak dengannya di saat-saat seperti ini. Aku takut akan merusak sesuatu jika aku berbicara. Aku ingin menahannya untuk pergi dan memintanya menikmati waktu lebih lama bersamaku. Tetapi semua itu hanya tertahan di kepalaku.
Saat sudah sampai di pekarangan dari rumah Aulia, pikiranku kosong, seakan semuanya disedot dariku dan lenyap begitu saja.
"Ini pertemuan terakhir kita ya?" Ucap Aulia melihat wajahku yang terlihat begitu kosong.
"Mungkin."
"Kamu marah?" Tanya Aulia, memastikan apa yang terjadi kepadaku.
"Engga. Aku cuman ngrasa aneh aja." Jawabku. "Rasanya semua berjalan ter—"
"Aku tau. Aku juga ngrasain hal yang sama. Kita tetep bisa saling komunikasi kok, kita cuman terhalang jarak yang jauh."
"Aku bakalan nunggu."
"Nunggu apa?"
"Aku bakal nungguin kamu. Aku bakal tetap disini, nungguin kamu selesai sama perkuliahan kamu. Aku bakal nungguin kamu buat kembali."
"Kalau dalam waktu yang lama kamu nungguin aku, terus salah satu dari kita ketemu seseorang, kamu masih mau nunggu?" Tanya Aulia mendengar perkataanku barusan.
"Kalau di kejauhan sana kamu ketemu sama orang lain yang lebih baik daripada aku, aku akan mendukungmu dan membiarkanmu bahagia dengan pilihan yang kamu ambil. Aku engga yakin bisa ketemu sama orang lain yang lebih baik daripada kamu." Jawabku dengan ekspresi wajah yang serius, Menatap mata Aulia.
"Kita engga tau bagaimana masa depan. Aku engga bakal nglarang kamu buat ketemu sama cewek lain di luar sana. Kamu berhak untuk kehidupanmu sendiri. Dengan aku atau tanpa aku, kamu tetep harus ngjalanin hidup kamu."
"Kamu akan selalu jadi orang yang spesial buatku." Mataku berkaca-kaca, air mataku siap mengalir kapan saja.
"Aku tidak mungkin akan melupakan tentangmu." Aulia memeluk tubuhku yang masih diatas motor.
Sekarang usiaku sudah sampai di akhir 20an, kehidupan berjalan terlalu cepat. Aku merasa aku masih mengenakan putih abu itu kemarin. Sekarang aku sudah menjadi om-om untuk keponakanku yang berusia 6 tahun.
Di suatu waktu, aku teringat kembali dengan film Tentara yang pernahku tonton di bioskop bersama dengan Aulia, aku memutuskan untuk menonton film itu lagi, sekedar hanya untuk mengingat kembali momen itu.
Kali ini air mataku pecah, air mengalir di wajahku saat credit title, akhirnya aku menangis karena film itu. Ternyata aku benar, aku tidak bisa Melepaskannya. Tentang seseorang yang pernah ada di hidupku.
Komentar
Posting Komentar