Fotonya Blur
"Hei, kamu mau belajar menggunakan kamera?" Begitulah awal aku masuk ke dunia baru ini.
Kakek yang mengajariku untuk menggunakan kamera, di usia senjanya ia menemukan hobi baru. Kakek adalah orang yang baik.
Setelah diajarkan tentang kamera, aku langsung mengambil banyak foto, dari langit, bunga, sampai Litto, anjing kesayanganku. Semua yang bisa kufoto, akan kuabadikan menggunakan kamera.
Itu waktu yang lama. Saat itu aku masih 15 tahun, lima tahun berganti aku sudah berusia 20 sekarang. Tetapi rasa itu masih tertempel di kepalaku. Banyak yang sudah berubah selama lima tahun yang tidak terasa cepatnya. Litto sudah menjadi anjing besar, aku tidak menyangka dia bisa tumbuh sebesar itu. Aku membawa kamera untuk memfoto kakek yang terakhir kalinya.
Dia mengenakan stelan jas berwarna biru tua yang terlihat keren. Di tangan kirinya melingkar jam tangan kesayangannya yang masih menyala. Kakek terkena serangan jantung tadi pagi dan sekarang terbaring di peristirahatan terakhirnya. Peti berwarna putih dengan beberapa dekorasi bunga di sampingnya. Tidak kusangka akan secepat ini.
Rumah duka penuh sesak akan orang-orang yang berduka. Keluarga besar berkumpul, semuanya dengan pakaian gelap dan muka yang sedih. Semua merasakan kehilangan.
Banyak yang menyalami kami, memberikan rasa bela sungkawa mereka kepada kami sekeluarga, memberikan semangat. Tamu yang datang sepertinya juga sulit merelakan kakek pergi meninggalkan dunia ini.
Para tamu masih berdatangan hingga angin sore membasahi rumah duka yang terasa panas. Aku memutuskan untuk keluar dari rumah duka sebentar untuk menghisap sebatang rokok. Mulutku sudah terasa aneh, sejak tadi tidak ada nikotin yang masuk ke tubuhku.
Aku mengeluarkan sebatang rokok, menjepitnya dengan kedua jari di tangan kiriku. Api dari korek sudah menyala, kudekatkan api itu ke ujung tembakau dan bersiap menghisapnya. Ah rasanya nikmat.
"Hei, boleh kupinjam koreknya?" Suara dari pintu keluar. Seorang wanita, kelihatannya masih muda, wajahnya lumayan cantik, tetapi matanya terlihat terlalu lelah.
Aku menjulurkan tangan yang sudah memegang korek. Dia mengambil korek itu, mengeluarkan sebatang rokok dan langsung dijepit di bibirnya. Dia menghisapnya sekali, asap keluar dari mulutnya, wajahnya terlihat lebih tenang. "Terima kasih."
Wanita itu duduk di sebelahku, ia menghisap lagi rokok yang sekarang dijepit diantara kedua jarinya dan menghembuskan asap yang banyak. "Kehilangan orang yang kita sayangi berat ya?"
Aku menghembuskan asap, melihat langit sore yang banyak awan. "Ya, begitulah."
"Kamu fotografer?" Sedikit asap keluar saat dia bertanya.
"Mungkin bisa dibilang begitu. Entahlah." Aku menghisap kembali rokok di tangan kiriku. Rasanya sangat nikmat.
Mata lelahnya melihat biru langit yang semakin memudar. "Kau tahu, rasanya sedih melihat orang di sekitar kita sebelum kita mati."Dia menghisap lagi rokok yang di tangannya.
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Terasa aneh untuk kudengar sekarang. Beberapa orang sudah berlalu keluar untuk pulang.
"Aku punya anak," Dia memberikan jeda, mengambil kesempatan untuk menghisap rokok. "Dia perempuan yang cantik dan manis." Kulihat wajahnya, di bawah mata lelahnya terlihat senyuman yang sama lelahnya.
"Aku divonis akan mati satu bulan lagi."
Aku merasa seperti dipukul di wajah tanpa persiapan. "Aku tahu kamu kaget, tapi anggap saja semua akan berlalu baik-baik saja." Dia melihatku yang memiliki ekspresi yang aneh.
"Apakah anakmu tahu?"
"Aku tidak memberi tahu." Jawabnya, kembali memperhatikan langit dengan wajah lelahnya. "Dia akan sangat sedih jika tahu akan kehilangan satu-satunya orang berharga yang berharga di hidupnya."
"Dimana ayahnya?"
"Hei bolehkah aku meminta tolong kepadamu?" Dia mengabaikan pertanyaanku.
"Bisakah kau mengambil foto untuk beberapa momen kami?" Tanyanya. "Aku tidak ingin menjadi ibu yang buruk dengan meninggalkannya tanpa kenangan."
Aku mematikan rokok yang sudah hampir habis di tanganku. Aku terlalu bingung dengan situasi yang terjadi sekarang.
"Akan aku bayar. Tenang saja." Ucapnya, mengeluarkan hembusan terakhir dan mematikan rokok di tangannya.
Kami akhirnya bertukar kontak, Namanya Kame. Dia bilang dia akan menghubungiku setelah urusanku di rumah duka selesai. Aku masih bingung, bagaimana aku terjebak di situasi ini.
Kami bertemu lagi dua minggu setelah percakapan terakhir. setiba di rumahnya, aku disambut dengan anak kecil yang membukakan pintu untukku. Kame mempersilahkanku masuk ke rumahnya. Rumah itu tidak terlalu luas tapi cukup untuk ditinggali oleh ibu dan anak. Banyak kardus yang berisikan barang-barang dan ditumpuk di mana-mana.
"Namanya Gita. Dia manis kan?" Ucap Kame dengan tangan yang sibuk menyusun barang kedalam kardus.
"Iya." Jawabku. "Kenapa banyak kardus di sekitar sini."
"Kami akan pindah minggu depan. Tinggal bersama neneknya." Kame menunjuk Gita yang sedang asik dengan bonekanya. "Aku harus bekerja sebentar lagi, bisakah aku titip Gita dan rumah ini?"
"Aku bukan pengasuh. Kau tahu kan?"
"Aku tahu, aku ingin kamu sekalian mengambilkan Fotonya yang banyak untukku."
Gita melirikku, dia terlihat cukup pendiam. Kurasa tak apa jika dia bukan anak yang rewel.
"Sayang, kamu ditemenin temen mama dulu ya. Mama mau pergi kerja dulu." Kame mendekatkan dirinya ke Gita, dan mengecup keningnya dengan lambut.
Itu menjadi foto pertama yang kuambil.
Saat Kame sudah di depan pintu, Gita mendekat, "Dadah mama, yang semangat!" Ucap anak kecil itu sambil melambaikan tangan mungilnya.
Sekarang aku bersama anak kecil yang tidak tahu apa yang ada di depannya. Dia membuka salah satu kardus, mengambil sebuah buku. Buku pelajaran kelas satu. Dengan posisi mantap di sofa, dia mulai membaca.
Menurutku, inilah yang dimaksud dengan mengambil foto sebanyak mungkin. Aku mulai memotret Gita yang sedang duduk manis di sofa dengan buku di tangannya.
Aku duduk bersandar pada tembok, berada di seberang Gita. Kamera sudah siap di tangan, aku tidak akan melewatkan sekecil apapun momen yang harus ku foto.
Sampai siang, Gita hanya membaca buku. Aku kagum dengan bagaimana anak ini bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku, tidak seperti anak-anak pada umumnya yang menghabiskan hari hanya dengan telepon genggam.
"Aku lapar, om mau makan juga?" Itu adalah percakapan pertama kami setelah hampir setengah hari.
Sejujurnya aku memang lapar, tapi tidak mungkin aku meminta makan dari anak kelas satu SD.
"Yasudah kalau begitu. Aku mau makan." Merasa diabaikan, akhirnya Gita menutup buku dan beranjak ke dapur.
Aku mengekori anak itu pergi ke dapur, memotretnya yang berjalan dengan langkah kecil. Dia membuka kulkas dan mengambil dua butir telur, menyiapkan teflon di atas kompor. Ternyata dia akan memasak.
"Kamu bisa memasak?" Tanyaku memastikan. Untuk anak seusianya tidak mungkin bisa memasak.
Dia memanjat kursi kecil, badan kecilnya memang belum sampai tapi dari caranya menyalakan kompor, sepertinya dia memang bisa memasak.
"Mau aku saja yang membuatkan makanmu?" Aku menawarkan diri, takut dia akan kenapa-kenapa. Gita menggeleng cepat, dia memulai memasak.
Dia memecahkan dua butir telur itu ke dalam mangkok, memasukan sejumput garam, lalu mengaduk isi mangkok itu hingga semua tercampur dan berwarna kuning sempurna. Setelah selesai dengan telur, ia memulai dengan memanaskan minyak di teflon dengan api kompor yang kecil. Dia memindahkan isi mangkok ke teflon dengan tangan yang cekatan. Setelah merasa bagian bawah sudah cukup matang, dia membalikkan telur itu dengan sempurna. Semua hal indah yang terdokumentasi oleh kamera di tanganku.
Setelah makanannya selesai, dia memindahkan telur dadar ke piring, lalu membelahnya menjadi dua bagian. Dia mengambil nasi, lalu memindahkan satu bagian ke piring berisi nasi dan mengisi nasi ke piring yang lauknya sisa setengah. Dia menyerahkan satu piring untukku.
"buatku?" Aku tadi tidak menjawab saat dia menawarkan, kukira dia hanya memasak untuknya seorang.
"Kata mama, kalau ada tamu gak sopan kalau kita makan tapi tamunya engga dikasih. Jadi om ambil aja." Dia mengatakan itu dengan senyum lebar di wajahnya.
Anak itu terlihat manis saat ia sedang makan, kemanisannya terekam oleh kamera di tanganku. Kami makan berdua dengan hikmat. Tidak kusangka masakan anak ini cukup enak, dia memang pandai memasak.
Setelah kami selesai makan, Gita langsung mencuci piring dan teflon yang sudah digunakan. Aku pun ikut membantu, bagaimanapun juga dia telah memberikanku makan, aku sungkan dengan anak ini.
Di sorenya, Gita menghabiskan waktu untuk membaca buku lagi. Tampak tidak ada bosannya dia membolak-balikan halaman buku yang berada di tangannya, benar-benar anak yang manis.
Mulutku akhirnya mulai merindukan rokok, sudah hampir 10 jam tidak ada asap yang masuk ke tubuhku. Aku harus segera merokok. "Hei," Panggilku kepada anak itu sambil menjentikan jari. "Aku ingin merokok. Aku di luar sebentar."
Dia hanya menoleh dan mengangguk pelan, masih terlalu fokus dengan buku di tangannya.
Aku duduk di samping pintu, dekat dengan tanaman hias yang dipajang. Aku mengeluarkan rokok yang dari tadi berada di saku bajuku, kuambil sebatang lalu membakarnya. Aku memutarkan lagu Kangen yang dibawakan oleh Dewa-19 dari ponselku untuk menemani rokok ini. Langit biru yang perlahan padam dan langit oranye yang perlahan menyapu birunya langit. Pemandangan yang indah.
Gita berhenti membaca buku, dari jendela dia ikut menikmati langit sore ini dan mengikuti irama dari lagu ini. Dewa-19 selalu memiliki daya magisnya dalam lagu-lagu mereka. Di penghujung lagu Gita melangkah keluar, mengejar seorang perempuan yang terlihat semakin Lelah.
Senyuman seorang ibu terlihat begitu indah, ini mungkin adalah waktu paling bahagia untuk Kame dan Gita. Aku memotret mereka yang sedang berpelukan di bawah sinar senja yang menyejukan mata. Fotonya sangat indah.
Setelah selesai bersih-bersih, Kame langsung menyiapkan makan malam. “Dia anak yang baik kan?”
“Ya. Dia anak yang sangat baik. Kuharap jika nanti aku punya anak akan seperti dia.” Jawabku kagum dan bangga dengan Gita.
Kame hanya tertawa pelan. Masakannya siap. Tiga piring nasi goreng yang terlihat sangat enak. Sambil menyiapkan teh, Kame memanggil Gita yang sekarang sedang menonton televisi di ruangan depan.
Kami bertiga sudah berkumpul di meja makan. Rasa masakan Kame enak, kurasa aku tahu dari mana keahlian Gita dalam memasak.
“Sayang, mau pergi ke pasar malam?” Kame memulai pembicaraan. “Kita bakal seru-seruan di sana.”
Mata Gita berbinar Ketika mendengar diajak untuk pergi ke pasar malam. Mereka sepakat untuk pergi setelah makan selesai.
“Kau juga ikut ya! Bakalan seru kok.”
Di bawah gelapnya malam, berbagai warna terpancar dengan kilau yang indah. Dengan gaunnya yang terlihat baru, Gita memimpin aku dan Kame yang berjalan perlahan di belakangnya. Walaupun wajahnya terlihat seperti sudah sangat lelah, Kame tetap memaksakan senyumnya untuk bersama Gita.
Mereka menaiki banyak wahana, aku hanya melihat dari kejauhan dan mengambil banyak gambar untuk mereka, mau bagaimanapun aku tidak bisa menganggu waktu ibu dan anak yang sedang Bersama. Selama seharian Bersama dengannya, ini Adalah saat pertama aku bisa melihat Gita dengan senyumnya yang lebar. Dia menjadi anak yang paling bahagia di saat itu.
Sebelum kami berpisah, aku membelikan anak itu permen kapas. Harganya murah, besar pula, kurasa aku tidak akan menyesal membeli itu jika untuknya. Walaupun berujung dimarahi oleh Kame, tapi foto Gita dengan permen kapas itu menjadi foto terakhir yang aku ambil.
Perjalanan panjangku hari itu selesai, satu memori penuh akan foto-foto yang sangat bagus.
***
sudah 20 tahun lewat sejak hari itu. Banyak dari diriku yang sudah berubah, keriput kecil mulai ada. Litto sudah menyatu dengan tanah sejak 15 tahun yang lalu, semua terasa sangat cepat.
Aku memulai setiap pagi dengan menyeduh kopi dan melihat jalan raya yang berada di depan rumah. Beberapa kali aku terpikirkan bagaimana dengan anak itu setelah 20 tahun yang lalu kami berjumpa.
Segelas kopiku sudah hampir habis, aku sudah melihat puluhan mobil dengan berbagai warna berlalu pergi dari suatu tempat ke tempat lainnya. Dunia seakan bergerak cepat tanpa terasa, di depan pagarku ada seorang Wanita yang terlihat familiar.
Wanita itu melambaikan tangan dari seberang gerbang, akupun mendekatinya dengan langkahku yang tak lagi segesit saat aku muda.
“Lama tidak bertemu ya,” Suara dan senyumannya sangat khas, tidak salah lagi.
Aku mempersilahkan dia untuk masuk, sudah 20 tahun dan sepertinya dia tidak berubah sama sekali. Hanya terlihat semakin dewasa.
“Bagaimana kabarmu om?” Tanyanya lembut.
“Aku baik. Kamu sendiri bagaimana? Sudah 20 tahun ya.” Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana wajah perempuan di depanku bertahun-tahun yang lalu.
Dia mengangguk. Sebelum memulai, ia mengambil nafas panjang “Kamu tahu soal penyakit ibu ya?”
Aku membeku seketika, tidak menyangka waktu ini akan datang. Aku mengangguk pelan. “Itulah kenapa aku datang menemanimu hari itu.”
Air matanya mengalir setelah mendengar itu. Aku tidak tahu cobaan apa saja yang sudah dia tempuh sejauh ini. Dia tumbuh menjadi seorang perempuan yang hebat.
Aku menyerahkan tisu kepadanya, langsung diambil olehnya.
“Makasih ya.” Dengan suara serak dia mengatakan. “Makasih sudah mengabadikan momen terbaik di hidupku.”
Aku hanya bisa terdiam, tidak bisa mengeluarkan sedikitpun kata yang ada di benakku.
Gita membuka tas kecil yang dari tadi dipegang olehnya. Ia mengeluarkan foto-foto lama. Foto yang kuambil 20 tahun yang lalu. Fotonya sudah buram termakan oleh usia, tetapi kenangan yang menempel di anak berusia 7 tahun saat itu. Indah.
“Hei,” Gita memecahkan lamunanku yang masih terpaku dengan foto yang ia keluarkan. “Boleh Tolong mengambil fotoku?”
Komentar
Posting Komentar